Hmm, okey sebenarnya terlalu narsis kalo postingan pertama di blog baru isinya pacar sendiri, tapi alasan kenapa saya menulis tentang Imam adalah karena saya mau berterima kasih kepada Allah swt karena telah memberikan saya pacar yang begitu baik dan sabar, saya selalu bersyukur ketika melihatnya. Hmm, semoga apa yang saya syukuri sekarang ini tidak berlebihan :) oke kita mulai ceritanya
Saya hanya ingin bercerita apa yang saya alami bersamanya hari ini, pada saat tanggal 23 Maret 2011 tepatnya mata kuliah Logika Matematika saya sempat ngambek sama Imam karena masalah sepele, dan pada saat di kelas saya sangat grasak-grusuk mengeluarkan binder, sehingga tanpa sadar tempat pensil saya yang kebuka terjatuh dan karena saya sedang kesal sama Imam, saya hanya mengambil asal barang2 dari tempat pensil saya yang terjatuh, singkat cerita saat saya sampai rumah dan diantar Imam (kami sudah berbaikan) adik saya ingin memakai internet dan saya bilang kalo modemnya ada di tempat pensil, tidak berapa lama adik saya bilang kalo modem saya tidak ada, seketika saya panik dan saat itu Imam langsung ingat ketika tempat pensil saya jatuh, akhirnya kami kembali ke kampus untuk mencari modem itu, sebenarnya saya tau sangat mustahil modem itu dapat saya temukan, namun karena saya tidak ingin menyesal bila belum dicari kami langsung ke kampus padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Sesampainya disana benar saja kalo modem saya tidak ketemu, meskipun begitu saya tetap sangat berterima kasih kepada Imam karena mau mengantar saya kembali ke kampus.
Setelah beberapa hari saya baru merasakan dampak dari kehilangan modem yaitu saat saya harus menyelesaikan tugas2. Saya berpikir apakah lebih baik kalo saya meminjam uang Imam untuk membeli modem, tapi di lain pihak saya tau uang yang dikumpulkan oleh Imam itu untuk membeli hp Android. kemudian saya urungkan niat saya, namun saat tanggal 2 April 2011 atau tepatnya kemaren saya kembali memikirkan rencana itu, dan dengan keegoisan saya (seharusnya saya lebih memikirkan perasaan Imam) saya bilang kepada Imam namun secara tersirat, dan selanjutnya kami hanya salah paham dan dengan memaksa saya Imam mengajak saya untuk membeli modem yang baru, namun setelah Imam mengajak saya untuk membeli modem yang saya rasakan adalah persaan bersalah, tapi pada akhirnya Imam tetap membelikan saya modem :) thankyou sweetheart
Mungkin untuk sebagian orang akan ada yang berpikir kalo saya itu sangat matre, bukan materinya yang memaksa tapi keadaannya :) dan pasti ada yang berpikir juga kalo Imam terpaksa membelikan saya, tentu tidak karena dia terlihat sangat bahagia saat membelinya, mungkin terlalu munafik bila hanya menilainya dari ekspresi namun begitulah Imam, dia tidak pernah menyambunyikan ekspresinya kepada saya :)
Terima kasih ya yang, aku janji bakalan ngejaga modem ini baik2 :)
Love you
Tidak ada komentar:
Posting Komentar